Manado, Jurnal6.com – PENGHARGAAN diberikan Kementerian Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi (KemDiktisaintek) bagi mahasiswa Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) melalui Tim Agrinexus atas peran aktifnya dalam menghadirkan inovasi teknologi pertanian bagi masyarakat.

Inovasi tersebut berhasil memperoleh pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa – Penerapan IPTEK (PKM-PI) 2026. Tim AGRINEXUS diketuai oleh Widy Oktavia Amba Sari, dengan anggota Cenesa Bong, Dewa Saputra Mandak, Yeremia Imanuel Lahema, dan Mohammad Vitorio Fitrah Tagupia, serta Dosen Pendamping Barce A. F. Wariki, M.Si.













Ketua Tim AGRINEXUS, Widy Oktavia mengungkapkan, timnya mengembangkan penerapan Smart Farming berbasis Internet of Things (IoT) untuk mendukung budidaya Pisang Mas di Kelurahan Tinoor Satu, Kecamatan Tomohon Utara, Kota Tomohon. Program AGRINEXUS lahir dari permasalahan yang dihadapi petani mitra dalam budidaya Pisang Mas, khususnya terkait ancaman serangan hama yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman dan berpotensi memengaruhi produktivitas.
“Berangkat dari permasalahan tersebut, Tim AGRINEXUS menghadirkan pendekatan teknologi yang memanfaatkan IoT untuk mendeteksi indikasi serangan hama di lahan. Sistem yang dikembangkan mengintegrasikan sensor, mikrokontroler, dan sistem pemantauan digital sehingga informasi dari lahan dapat diperoleh secara lebih terukur,” jelasnya.
Dia menambahkan, pelaksanaan program AGRINEXUS dimulai pada 23 Mei 2026 dengan melibatkan kelompok tani Filadelfia di Tinoor Satu. Dalam penerapannya, tim melakukan komunikasi dan pendampingan secara langsung agar sistem yang dikembangkan dapat disesuaikan dengan kondisi serta kebutuhan budidaya Pisang Mas di lapangan.
“AGRINEXUS tidak dimaksudkan untuk menggantikan pengalaman petani. Teknologi ditempatkan sebagai alat bantu untuk memperkuat proses pengamatan dan pengambilan keputusan, sementara pengalaman serta pengetahuan petani tetap menjadi bagian penting dalam pengelolaan tanaman,” tambahnya.
Ditambahkan anggota tim lainnya, Cenesa dan Dewa, adapun pemilihan Pisang Mas sebagai objek program tidak terlepas dari potensi komoditas tersebut di wilayah Tinoor Satu. Melalui perpaduan potensi pertanian lokal dan perkembangan teknologi, AGRINEXUS diharapkan dapat mendorong praktik budidaya yang lebih adaptif dan berbasis informasi.
“Bagi Tim AGRINEXUS, pendanaan PKM-PI 2026 menjadi kesempatan untuk menerapkan ilmu pengetahuan dari lingkungan akademik secara langsung di tengah masyarakat. Program ini sekaligus menjadi bentuk kontribusi mahasiswa dalam mendukung sektor pertanian melalui penerapan ilmu, teknologi, dan inovasi yang dikembangkan bersama petani,” ujar keduanya senada.
Ke depan, Tim AGRINEXUS berharap penerapan teknologi ini dapat memberikan manfaat bagi petani mitra, terutama dalam memberikan informasi awal mengenai indikasi serangan hama serta mendukung upaya pengelolaan risiko dalam budidaya Pisang Mas. “Dari Tinoor Satu, AGRINEXUS membawa semangat untuk menghadirkan pertanian yang tidak hanya mengandalkan teknologi, tetapi juga berangkat dari kebutuhan dan pengalaman petani.” tutup Barce Wariki sebagai dosen pendamping. (*lla)


Tinggalkan Balasan