Manado, Jurnal6.com – HASIL inovasi mahasiswa Program Studi Farmasi dengan penelitian berjudul “Inovasi Sistem Penghantar Spray Hydrogel Berbasis Nanoselulosa Limbah Sabut Kelapa Muda dan Ekstrak Daun Kersen sebagai Terapi Aplikatif Ulkus Diabetikum” yang dikembangkan oleh tim yang diketuai Rafael Lanipi, bersama anggota Andini Khoiriyah, Haliza Anggraini Wonggo, Elisabeth Debora Pintaria Sinaga, dan Theophilus Poniton Daniel Halomoan Nainggolan, dengan Defny Silvia Wewengkang, SPIK., M.Sc., Ph.D. sebagai dosen pendamping, berhasil meraih pendanaan melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).

Adapun sistem penghantar spray hydrogel berbasis nanoselulosa limbah sabut kelapa muda dan ekstrak daun kersen sebagai terapi aplikatif ulkus diabetikum. Dukungan pendanaan tersebut menjadi bagian penting dalam memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan gagasan penelitian berbasis permasalahan kesehatan dan potensi sumber daya lokal.

Dijelaskan Rafael Lanipi sebagai ketua tim, penelitian ini berangkat dari permasalahan ulkus diabetikum, salah satu komplikasi diabetes melitus yang dapat mengalami proses penyembuhan lebih lambat dan memiliki risiko infeksi. Kondisi tersebut mendorong tim untuk mengembangkan sistem penghantaran yang tidak hanya mengandalkan potensi bahan aktif, tetapi juga mempertimbangkan kemudahan aplikasinya pada permukaan luka.

Lanjutnya, limbah sabut kelapa muda dimanfaatkan sebagai bahan baku untuk menghasilkan nanoselulosa, sementara daun kersen (Muntingia calabura L.) digunakan sebagai sumber bahan alam yang berpotensi mendukung proses penyembuhan luka.

Kedua komponen kemudian dikembangkan dalam bentuk spray hydrogel, sehingga sediaan dapat diaplikasikan melalui penyemprotan dan diharapkan dapat memberikan kemudahan penggunaan pada area luka. “Keunggulan penelitian ini terletak pada integrasi bahan alam, pemanfaatan limbah, nanoteknologi, dan teknologi sediaan farmasi dalam satu sistem penghantaran. Sabut kelapa muda yang berpotensi menjadi limbah diolah menjadi material bernilai tambah, sedangkan daun kersen dimanfaatkan sebagai bagian dari pengembangan bahan aktif untuk terapi luka,” jelasnya.

Ditambahkan anggota tim, yakni Andini dan Haniza, konsep tersebut juga mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs poin 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera (Good Health and Well-being) melalui pengembangan inovasi di bidang kesehatan, serta SDGs poin 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab (Responsible Consumption andProduction) melalui pemanfaatan limbah sabut kelapa muda menjadi bahan bernilai guna.

“Penelitian ini merupakan upaya tim untuk mengembangkan potensi sumber daya lokal menjadi inovasi di bidang farmasi. Kami ingin mengubah limbah sabut kelapa muda menjadi sesuatu yang memiliki nilai tambah melalui pengembangan nanoselulosa, kemudian mengombinasikannya dengan ekstrak daun kersen dalam bentuk spray hydrogel untuk mendukung terapi ulkus diabetikum. Kami berharap penelitian ini tidak berhenti sebagai penelitian mahasiswa, tetapi dapat terus dikembangkan hingga memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat,” ujar keduanya senada.

Sementara itu, Dosen Pendamping, Defny Silvia Wewengkang, SPIK., M.Sc., Ph.D., mengapresiasi kreativitas tim dalam mengintegrasikan bahan alam dan teknologi farmasi.

“Penelitian ini memiliki nilai inovasi karena menggabungkan pemanfaatan limbah lokal dengan teknologi nanoselulosa dan sistem penghantaran spray hydrogel. Namun, seluruh potensinya tetap harus dibuktikan melalui tahapan penelitian dan data yang valid. Kami berharap penelitian ini menjadi langkah awal bagi mahasiswa untuk menghasilkan inovasi yang memiliki dasar ilmiah kuat dan dapat dikembangkan lebih lanjut,” ungkap Defny.

Melalui dukungan pendanaan Kemdiktisaintek, tim berharap penelitian ini dapat terus dikembangkan melalui tahapan penelitian yang sistematis sehingga menghasilkan inovasi yang memiliki nilai ilmiah dan potensi manfaat bagi masyarakat.

Lebih jauh, penelitian ini diharapkan dapat menjadi contoh bahwa permasalahan kesehatan dan lingkungan dapat dijawab secara bersamaan melalui inovasi berbasis potensi lokal.

“Pemanfaatan limbah sabut kelapa muda menjadi nanoselulosa dan pengembangan ekstrak daun kersen dalam sistem spray hydrogel menjadi langkah tim dalam mewujudkan inovasi farmasi yang sejalan dengan semangat kesehatan berkelanjutan dan pemanfaatan sumber daya secara bertanggung jawab,” pungkasnya. (*lla)