Nats Alkitab : Yosua 24:1-28
Bapak, Ibu, dan Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Seandainya seluruh anggota tubuh kita diikutkan dalam lomba balap, pemenangnya pasti mulut kita. Mulut manusia, kalau start berjanji – kecepatannya luar biasa. Begitu ada kesempatan agar urusan cepat kelar, mulut kita langsung melesat: “Iya saya sanggup!”, “Besok pasti beres!”, atau “Minggu depan uangnya saya kembalikan!”.












Masalahnya, mulut kita sudah sampai ke garis finish membawa janji, sementara komitmen dan tindakan nyata kita masih tertinggal jauh di garis start. Ada pepatah kuno mengatakan: ‘Kerbau yang dipegang talinya, manusia yang dipegang omongannya.’ Tapi dizaman sekarang ini , memegang omongan manusia terkadang lebih sulit daripada menangkap belut di dalam oli.
Saudaraku, sadarkah kita bahwa manusia dinilai bukan dari seberapa tinggi jabatannya atau seberapa mewah penampilannya, melainkan dari seberapa berbobot kata-katanya saat ditepati. Dan inilah yang sesungguhnya sementara ditantang oleh Yosua kepada Israel melalui kesepakatan di “Sikhem”. Di masa tuanya, Yosua sadar bahwa bangsa Israel sedang dikelilingi oleh budaya penyembahan berhala bangsa Kanaan. Karena itu sebelum mati, Yosua memantapkan hati seluruh bangsa agar mereka menetapkan pilihan untuk setia hanya kepada TUHAN dan tidak beribadah kepada alah lain. Ia memanggil bangsa ini ke Sikhem tempat yang bersejarah bagi mereka.
Dimana di Sikhem, di bawah pohon Tarbantin More, Allah pertama kali berjanji memberikan negeri itu kepada Abraham dan keturunannya sehingga disana Abraham mendirikan mezbah pertamanya (Kej. 12:6-7). Di Sikhem pula, Yakub melakukan pembersihan spiritual pertama dalam sejarah Israel. Ia memerintahkan keluarganya mengubur semua patung berhala di bawah pohon tarbantin ini (Kej. 35:2-4). Dan kini, ketika janji Kanaan tergenapi, Yosua menuntut respons umat.
Sama seperti Yakub dahulu yang mengubur berhala di bawah pohon ini, Yosua meminta orang Israel menjauhkan berhala dan alah asing yang ada ditengah-tengah mereka serta mengikat janji setia untuk beribadah kepada Allah saja. Guna memastikan ketulusan hati mereka, Yosua menguji iman bangsa itu hingga tiga kali berturut-turut : melalui tantangan memilih (ay.15), teguran keras mengenai kekudusan Allah yang cemburu (ay.19), serta penegasan agar mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri (ay.22).
Setelah komitmen sejati mereka terkunci melalui tiga kali penegasan tersebut, Yosua tidak ingin umat hanya mengikrarkan komitmen di mulut saja. Ia mendirikan sebuah batu besar di bawah pohon tarbantin itu sebagai monumen hukum yang kaku dan saksi abadi, yang mengikat seluruh bangsa dalam janji suci untuk hidup setia beribadah hanya kepada Tuhan. Dengan monumen ini, Israel dituntut Yosua untuk selalu mengingat tetapi juga membuktikan komitmen iman mereka dengan tindakan real.
Saudara, bagaimana dengan “Sikhem” kita? Masih ingatkah kita dengan janji-janji yang kita buat dihadapan Allah? sudahkah kita mewujudkannya? Atau jangan-jangan hanya manis di bibir saja. Ingatlah kembali momen-momen di mana didalam susah – kita berjanji taat dan Tuhan menolong ; dalam sakit – kita berjanji setia dan Tuhan sembuhkan ; dalam kekurangan Tuhan – kita berjanji tekun dan Tuhan memberikan kelimpahan. Mungkin ada banyak janji-janji lainnya pula yang kita buat dihadapan Tuhan.
Jangan sampai kita menjadi orang Kristen yang hanya berjanji setia di bibir saat susah, namun melupakan Tuhan di hari-hari baik selanjutnya. Janganlah menukar mezbah ibadahmu dengan mezbah dunia yang fana. Jangan hanya karena berhala modern dunia, kenyamanan, ambisi buta, cinta uang, atau kesibukan, kita menjadi lupa diri dan lupa janji. Bukankah Ia sudah membuktikan kasihNya dimusim-musim hidupmu?
Saudara, Pada abad ke-2 terjadi penganiayaan kejam oleh Romawi terhadap orang Kristen. Dalam usia ke 86 tahun, Uskup Smirna – Polikarpus yang adalah murid Rasul Yohanes ditangkap karena menolak menyembah berhala dan dewa kaisar. Di tengah stadion yang penuh massa, gubernur Romawi membujuknya demi menyelamatkan nyawanya: “Kutuklah Kristus, maka aku akan langsung membebaskanmu!”.
Di hadapan ancaman tiang bakaran api, Polikarpus berdiri dengan tenang dan mengucapkan kalimat iman yang mengguncang sejarah: “Delapan puluh enam tahun aku telah melayani Dia, dan Dia tidak pernah sekalipun mengecewakan atau berbuat jahat kepadaku. Bagaimana mungkin hari ini aku bisa mengutuk Raja dan Juruselamatku?” Hari itu, Polikarpus memilih mati terbakar di dalam api daripada hidup dengan mengkhianati imannya. Dia menolak kompromi dengan berhala dunia karena dia tahu persis, Allah yang disembahnya adalah Allah yang teramat setia.
Saudaraku, dalam hidup ini – baik ketika dipuncak ataupun dalam lembah kesusahan yang paling gelap janganlah menjadi manusia yang lupa diri. Jadilah setia – baik di dalam badai maupun di dalam kelimpahan. Ingatlah, bagi siapa yang setia sampai akhir berkat penyertaanNya ada di atas hidupmu, di atas keluargamu, dan di atas masa depanmu. Bahkan lebih dari itu mahkota kehidupan yang tidak akan pernah bisa direbut oleh dunia diberikannya kepadamu. Saudaraku, Ingat Sikhem, ingat setia, Tuhan Yesus pasti menyertai. Amin.


Tinggalkan Balasan