Sangihe, jurnal6.com
Proyek rehabilitasi fasilitas Pelabuhan Tahuna dan Pelabuhan Matutuang terus menunjukkan perkembangan positif. Hingga akhir Juli 2026, progres fisik rehabilitasi Pelabuhan Tahuna telah mencapai sekira 61 persen, sedangkan Pelabuhan Matutuang mencapai sekira 43 persen.
Hal tersebut disampaikan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (UPP) Kelas II Tahuna, Meifrid Palenewen, saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (29/7/2026).
Meifrid mengatakan, seluruh pekerjaan rehabilitasi ditargetkan selesai pada 31 Desember 2026. Menurutnya, proses pembangunan berjalan sesuai perencanaan dan spesifikasi teknis yang telah disusun UPP Kelas II Tahuna bersama Kementerian Perhubungan melalui Detail Engineering Design (DED).

“Seluruh pekerjaan sementara berjalan sesuai dengan peruntukan dan spesifikasi yang telah direncanakan. Kami optimistis target penyelesaian pada 31 Desember 2026 dapat tercapai,” ujarnya.
Ia menambahkan, dari sisi lingkungan, proyek tersebut telah mengantongi kajian lingkungan yang diterbitkan sejak 2024. Karena itu, pihaknya mengajak masyarakat untuk bersama-sama mendukung sekaligus mengawasi jalannya pembangunan hingga tuntas.
“Kami berharap masyarakat memberikan dukungan dan turut melakukan evaluasi bersama. Namun, mari kita beri kesempatan agar pekerjaan ini berjalan hingga progres fisiknya mencapai 100 persen,” katanya.
Di sisi lain, Meifrid mengakui terdapat sejumlah tantangan dalam pelaksanaan proyek. Cuaca ekstrem yang kerap melanda wilayah Kepulauan Sangihe, termasuk aktivitas gempa yang beberapa kali terjadi, menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kelancaran pekerjaan di Pelabuhan Tahuna maupun Pelabuhan Matutuang.
Selain faktor alam, aktivitas operasional Pelabuhan Tahuna juga menjadi tantangan tersendiri. Kurang lebih 20 hari, pelabuhan Tahuna disinggahi kapal Tol Laut KM Logistik Nusantara sehingga diperlukan pengaturan ulang aktivitas pelabuhan.
Untuk menjaga kelancaran operasional, aktivitas bongkar muat dan pelayanan sementara dialihkan ke Pelabuhan Peta saat kapal Tol Laut bersandar.
“Pengalihan ini dilakukan agar aktivitas bongkar muat KM Logistik Nusantara tidak terganggu, progres rehabilitasi tetap berjalan, dan pelayanan kepada masyarakat tetap optimal,” jelasnya.
Menurut Meifrid, kebijakan tersebut mendapat respons positif dari masyarakat, khususnya warga Tabukan Utara dan wilayah sekitarnya. Kehadiran kapal di Pelabuhan Peta dinilai memberikan kemudahan akses pelayanan bagi masyarakat.
“Kondisi ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi kami bersama Dinas Perhubungan untuk terus meningkatkan pelayanan di Pelabuhan Peta. Ke depan, kami berharap pelabuhan ini dapat dimaksimalkan sehingga mampu memberikan pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat,” pungkasnya. (Ady)


Tinggalkan Balasan