Sangihe, jurnal6.com
Komitmen Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sangihe dalam menekan angka tuberkulosis (TB) diwujudkan melalui peluncuran Santer TB (Sangihe Tuntas Eliminasi Tuberkulosis). Inovasi berbasis digital yang diresmikan Bupati Kepulauan Sangihe Michael Thungari, SE., MM., pada Senin (6/7/2026) ini memungkinkan pengawasan pasien dilakukan secara real-time agar pengobatan berjalan hingga tuntas sekaligus mendukung target eliminasi TB nasional pada 2030.
Peluncuran Santer TB dilaksanakan di Tahuna dan turut dihadiri Wakil Bupati Tendris Bulahari. Inovasi yang dikembangkan Dinas Kesehatan Daerah Kabupaten Kepulauan Sangihe tersebut menjadi bagian dari transformasi pelayanan kesehatan berbasis digital untuk memperkuat pengendalian tuberkulosis di daerah.
Dalam sambutannya, Bupati Michael Thungari menegaskan bahwa tuberkulosis masih menjadi salah satu persoalan kesehatan yang memerlukan perhatian serius. Meski merupakan penyakit yang dapat dicegah dan disembuhkan, angka kasus maupun kematian akibat TB di Indonesia masih tergolong tinggi.

Menurutnya, berbeda dengan stunting yang dapat dikenali melalui kondisi fisik, penderita TB tidak dapat diidentifikasi hanya dari penampilannya. Karena itu, dibutuhkan sistem pendataan dan pemantauan yang akurat agar pasien dapat ditemukan lebih cepat dan segera menjalani pengobatan.
“TB bukan penyakit yang harus ditakuti. Penyakit ini dapat disembuhkan apabila pasien disiplin menjalani pengobatan selama enam bulan sesuai anjuran tenaga kesehatan,” ujar Bupati.
Ia mengatakan, salah satu tantangan terbesar dalam penanganan TB adalah masih banyak pasien yang menghentikan pengobatan sebelum waktunya karena merasa telah sembuh. Padahal, kondisi tersebut berpotensi menyebabkan TB resistan obat (drug-resistant TB) sehingga proses penyembuhan menjadi lebih sulit.
Melalui Santer TB, pemerintah daerah berharap pemantauan pasien dapat dilakukan secara lebih efektif sehingga angka pasien putus berobat dapat ditekan dan risiko penularan di masyarakat semakin berkurang.
Bupati juga mengajak seluruh kader TB untuk aktif melakukan pendataan terhadap warga yang diduga terpapar TB di setiap desa dan kelurahan, serta rutin memperbarui data melalui aplikasi tersebut.
“Semakin cepat pasien ditemukan dan diobati, maka semakin kecil risiko penularan kepada keluarga maupun masyarakat,” katanya.
Pada kesempatan itu, Bupati turut memberikan apresiasi kepada Dinas Kesehatan Daerah Kabupaten Kepulauan Sangihe beserta seluruh tenaga kesehatan yang terus berkomitmen memberikan pelayanan kesehatan terbaik bagi masyarakat.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Daerah Kabupaten Kepulauan Sangihe, dr. Handry Pasandaran, menjelaskan bahwa Santer TB merupakan platform digital yang menghubungkan puskesmas, Dinas Kesehatan, kader, pasien, hingga keluarga pasien dalam satu sistem pemantauan terpadu.
Menurutnya, aplikasi tersebut dikembangkan untuk menekan angka Lost to Follow Up (LTFU) atau pasien yang berhenti menjalani pengobatan sebelum dinyatakan sembuh.
“Santer TB dilengkapi sistem Electronic Directly Observed Treatment (iDOT) yang memungkinkan pengawasan minum obat dilakukan secara elektronik,” jelas Handry.
Melalui sistem tersebut, pasien atau anggota keluarga mengunggah video saat mengonsumsi obat. Video kemudian diterima sistem dan secara otomatis mengirimkan notifikasi kepada kader, puskesmas, hingga Dinas Kesehatan secara real-time.
Santer TB juga dilengkapi fitur peringatan dini. Jika pasien tidak mengonsumsi obat selama 24 jam, sistem akan mengirimkan notifikasi kepada petugas. Apabila belum ada tindak lanjut, tenaga kesehatan akan melakukan kunjungan langsung ke rumah pasien.
Selain itu, aplikasi ini menyediakan layanan telekonsultasi sehingga pasien, terutama yang berada di wilayah dengan akses geografis sulit, tetap dapat berkonsultasi dengan tenaga kesehatan maupun dokter tanpa harus datang ke fasilitas kesehatan.
Apabila penanganan di tingkat layanan primer belum dapat diselesaikan, pasien akan dirujuk ke rumah sakit tipe C atau memperoleh pendampingan dokter konsultan di Rumah Sakit Kandou.
Handry menambahkan, saat ini Santer TB masih berbasis web dan sedang dikembangkan menjadi aplikasi Android yang nantinya dapat diunduh melalui Play Store. Implementasinya diawali melalui proyek percontohan di tiga kecamatan di Kota Tahuna selama satu bulan sebelum dievaluasi dan diperluas ke seluruh wilayah Kabupaten Kepulauan Sangihe dalam tiga bulan mendatang.
“Kami berharap Santer TB menjadi solusi yang mampu meningkatkan kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan, mempercepat penemuan kasus, serta memperkuat kolaborasi antara tenaga kesehatan, kader, pasien, dan keluarga. Dengan dukungan semua pihak, kami optimistis target eliminasi tuberkulosis di Kabupaten Kepulauan Sangihe dapat tercapai,” tutup Handry. (Ady)


Tinggalkan Balasan