Sangihe, jurnal6.com
Gelaran Adhyaksa AMDR Sangihe 2026 yang akan menghadirkan ajang Drag Race dan Drag Bike di Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, ditunda sementara oleh panitia.
Keputusan tersebut diambil menyusul insiden dalam ajang serupa di Kotamobagu yang mengakibatkan korban jiwa. Panitia menilai penundaan merupakan bentuk empati dan penghormatan kepada para korban serta keluarga yang terdampak musibah tersebut.
Ketua Panitia Adhyaksa AMDR Sangihe 2026, Rahmat Syaputra, mengatakan penundaan dilakukan atas inisiatif panitia sebagai bentuk kepedulian terhadap musibah yang terjadi dalam event serupa di Kotamobagu.

“Iya, untuk event tersebut memang kami menunda dikarenakan adanya musibah yang terjadi di event yang sama di Kotamobagu. Jadi kami selaku panitia Adhyaksa AMDR yang ada di Sangihe merasa harus menunda ini karena empati terhadap para korban dan keluarga,” ujar Rahmat Syaputra saat di temui, Selasa (11/8/2026).
Menurutnya, pertimbangan lainnya karena lokasi kejadian masih berada dalam wilayah Provinsi Sulawesi Utara dan kegiatan tersebut juga berada di bawah naungan Ikatan Motor Indonesia (IMI) Sulawesi Utara.
Meski ditunda, Rahmat memastikan persiapan pelaksanaan Adhyaksa AMDR Sangihe 2026 sejauh ini telah mencapai sekitar 90 persen. Berbagai persyaratan, termasuk perizinan dan kelayakan sirkuit, telah dipersiapkan oleh panitia.
“Kalau secara kepanitiaan, event yang akan dilaksanakan di Sangihe itu persiapannya sudah mencapai 90 persen. Baik perizinan dari Polda maupun kelayakan sirkuit yang telah dilakukan survei oleh teman-teman IMI Provinsi,” katanya.
Ia menjelaskan, panitia sebelumnya juga telah melaksanakan latihan bersama pada 9 Agustus 2026. Kegiatan tersebut dilakukan setelah panitia memperoleh izin dari Polda Sulawesi Utara serta rekomendasi dari IMI Sulut terkait kelayakan sirkuit nonpermanen di kawasan Pelabuhan Tahuna.
“Makanya kemarin kami pada tanggal 9 Agustus sempat melakukan latihan bersama. Kami berani melakukan latihan bersama itu karena telah keluarnya izin dari Polda Sulut serta rekomendasi dari IMI yang mengatakan sirkuit nonpermanen Peltu Tahuna layak untuk digunakan sebagai tempat event tersebut,” jelasnya.
Terkait penundaan kegiatan, Rahmat mengatakan hingga saat ini belum ada surat resmi dari IMI Sulut yang meminta agar pelaksanaan Adhyaksa AMDR Sangihe ditunda.
Namun, kata dia, panitia akan menyampaikan surat kepada IMI Sulut mengenai keputusan penundaan yang diambil atas inisiatif panitia.
“Sampai dengan saat ini, kalau dari IMI sendiri belum ada surat. Tapi berdasarkan petunjuk pimpinan kami, hari ini kami akan berkirim surat secara kepanitiaan kepada IMI karena kami yang ingin menunda event tersebut,” ungkapnya.
Rahmat menegaskan, keputusan tersebut semata-mata didasari rasa empati terhadap korban dan keluarga atas musibah yang terjadi di Kotamobagu.
“Menurut kami, kami sebagai penyelenggara ataupun panitia di sini merasa sangat-sangat berempati terkait kejadian dan musibah yang terjadi di Kotamobagu dengan event yang sama. Jadi penundaan ini atas inisiatif dari kepanitiaan, karena kalau menurut hobi itu, ‘Salam Satu Aspal, Satu Rasa’,” ujarnya.
Meski ditunda, panitia memastikan Adhyaksa AMDR Sangihe 2026 tetap akan dilaksanakan tahun ini. Namun, waktu pelaksanaan masih akan ditentukan melalui koordinasi lebih lanjut bersama IMI Sulut.
“Tahun ini insya Allah kami pastikan event ini tetap berjalan, walaupun nanti bulannya, harinya atau tanggalnya belum diketahui. Berdasarkan nanti kami akan koordinasi kembali dengan IMI Provinsi Sulut,” pungkasnya. (Ady)


Tinggalkan Balasan