Sangihe, jurnal6.com
Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Liun Kendage Tahuna terus memperkuat kualitas pelayanan kepada masyarakat, termasuk mengantisipasi penumpukan pasien serta memastikan ketersediaan obat hingga akhir tahun anggaran 2026.
Direktur RSUD Liun Kendage Tahuna, dr. Polideng M Dalawir, mengatakan arahan Bupati Kepulauan Sangihe yang disampaikan dalam upacara Hari Kesaktian Pancasila sekaligus apel kerja bersama ASN pada Rabu (1/10/2026), menjadi dorongan bagi manajemen rumah sakit untuk terus melakukan pembenahan pelayanan.
Menurutnya, arahan tersebut sejalan dengan komitmen RSUD Liun Kendage dalam memberikan pelayanan yang cepat dan maksimal kepada masyarakat.
“Bagi kami, ini merupakan perintah untuk kami laksanakan, sekaligus merupakan kerinduan kami dalam bentuk pelayanan kepada masyarakat,” kata Dalawir.
Ia menjelaskan, salah satu hal yang menjadi perhatian adalah pembenahan alur pelayanan, terutama di Instalasi Gawat Darurat (IGD) dan pelayanan rawat jalan. Penumpukan pasien ketika jumlah kunjungan meningkat harus diantisipasi dengan menyiapkan skenario pelayanan alternatif.
“Kalau pasien banyak sekali, kami harus siap dengan pilihan kedua, pilihan ketiga atau rencana cadangan selanjutnya. Bagaimana supaya para pengguna layanan, para pasien ini bisa dilayani dengan cepat, tetap memberikan pelayanan maksimal, tetapi waktu tunggunya tidak lama,” ujarnya.
Menurut Dalawir, upaya tersebut tidak hanya berkaitan dengan waktu tunggu pasien saat mendapatkan pelayanan dokter, tetapi juga hingga proses antrean dan penerimaan obat.
Di sisi lain, Dalawir memastikan kondisi ketersediaan obat di RSUD Liun Kendage saat ini jauh lebih baik dibandingkan awal tahun.
“Kami dalam posisi sekarang sudah memiliki stok obat yang jauh lebih baik dari awal tahun. Ditingkatkan pada semester satu dan memasuki semester dua ini sudah jauh lebih baik,” jelasnya.
Meski demikian, pihak rumah sakit tetap berupaya menjaga agar ketersediaan obat tidak mengalami kekurangan hingga akhir tahun. Hal itu dinilai penting karena memasuki penghujung tahun anggaran terdapat potensi peningkatan beban pembiayaan, sementara anggaran yang tersedia tetap.
“Tugas kami adalah tetap mempertahankan stok obat sampai dengan akhir tahun anggaran. Masa rawan akhir tahun anggaran adalah ketika pembebanan bertambah, sedangkan anggaran tetap,” katanya.
Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, manajemen rumah sakit melakukan evaluasi terhadap penggunaan anggaran dan mengoptimalkan anggaran yang belum atau kurang terpakai untuk mendukung kebutuhan obat.
“Ini menjadi tugas kami sebagai manajemen rumah sakit, termasuk bagaimana kita menyiasati anggaran. Anggaran mana yang tidak terpakai atau kurang terpakai 100 persen, kita alihkan sebesar-besarnya untuk anggaran obat supaya stok obat tetap tercukupi,” ungkap Dalawir.
Langkah tersebut, lanjutnya, telah dibahas bersama Satuan Pengawas Internal (SPI) RSUD Liun Kendage dan kemudian dilanjutkan melalui rapat Dewan Pengawas yang secara khusus membahas ketersediaan stok obat.
“Bukan karena ada keluhan, tetapi untuk menjaga kelangsungan obat ini tetap baik sampai dengan akhir tahun,” tegasnya.
Sementara itu, terkait pembenahan fasilitas pelayanan, Dalawir mengatakan secara umum pelayanan di RSUD Liun Kendage masih berjalan sesuai progres yang telah direncanakan.
Namun, salah satu agenda besar yang ditargetkan ditindaklanjuti hingga akhir tahun adalah pemindahan ruang perawatan anak dari bangunan lama ke gedung baru.
Menurutnya, proses persiapan pemindahan tersebut telah berlangsung sekitar enam bulan, termasuk penyiapan ruangan di lantai tiga gedung baru.
“Rencana besar yang masih harus kami tindaklanjuti sampai dengan akhir tahun adalah memindahkan ruang perawatan anak dari bangunan lama yang sudah tua, termasuk fasilitas yang sudah tua, ke bangunan baru,” jelasnya.
Saat ini, persiapan telah memasuki tahap penyediaan fasilitas pendingin udara atau AC. Hal tersebut diperlukan karena desain bangunan baru relatif tertutup sehingga membutuhkan sistem pendingin udara yang memadai.
“Saat ini dalam tahap persiapan untuk pendingin udara (AC), karena bangunan baru itu dibangun dengan kondisi sangat tertutup, jadi harus ada AC. Kalau semuanya sudah siap, kita akan pindahkan ruang perawatan anak ke gedung baru,” katanya.
Dalawir menjelaskan, pemindahan tersebut juga berkaitan dengan efisiensi pemeliharaan fasilitas rumah sakit. Menurutnya, rumah sakit tidak dapat secara optimal melakukan pemeliharaan terhadap dua bangunan sekaligus.
“Kenapa harus pindah? Karena bangunan lama itu walaupun masih bisa digunakan secara permanen, rumah sakit tidak mampu untuk memelihara atau maintenance dua ruangan sekaligus. Hanya boleh pilih satu dan kami pilih untuk pindah ke gedung baru bila persiapannya sudah siap,” pungkasnya. (Ady)


Tinggalkan Balasan