oleh

LGBT Fenomena Seribu Ungkapan

LGBT (Lesbian, Gay, Biseks, dan Transgender) telah banyak menimbulkan pro dan kontra di kalangan masyarakat dan telah menjadi perbincangan yang sensitif. Homoseksual dan lesbian sebenarnya telah ada sejak zaman dahulu dimasa para nabi, namun pada abad ke-20 semakin mengkhawatirkan karena adanya kebebasan dalam memilih. Pada zaman ini, banyak pihak-pihak yang menyebarkan LGBT perlahan-lahan agar masyarakat dapat menerima bahwa LGBT sebagai tindakan yang normal dan ingin mengesahkan perkawinan sesama jenis. Hal tersebut telah banyak disekitar kita, tetapi kerap kali kita tidak menyadarinya. Contoh penyebaran LGBT dalam kehidupan kita sehari-hari terdapat pada sticker aplikasi Whatsapp yang mengandung unsur LGBT. Kelompok LGBT ini kerapkali mendapatkan cacian, diskriminasi, dan kekerasan dari masyarakat yang membenci atau merasa jijik dengan LGBT.
Berdasarkan sudut pandang Alkitab, ditegaskan bahwa LGBT adalah perbuatan yang memalukan akibat hawa nafsu dan merupakan perbuatan dosa yang keji di mata Tuhan. Dari awal Tuhan hanya menciptakan 2 gender yaitu laki-laki dan perempuan (Kejadian 1:26-28). Tuhan menciptakan perempuan untuk menjadi penolong yang sepadan dengan Adam, sehingga mereka dapat saling melengkapi (Kejadian 2:18). Dalam Galatia 5:19-21 berisi larangan untuk melakukan percabulan dan hawa nafsu. Berdasarkan ayat-ayat tersebut, terbukti bahwa Alkitab menolak dengan keras perilaku LGBT dan pelaku LGBT tidak akan mendapatkan bagian dalam kerajaan Allah. Jadi, kita sebagai orang Kristen harus berperilaku sebagai teladan dan memiliki kasih untuk merangkul kaum LGBT agar mereka dapat terlepas dari dosa mereka.
Perbuatan LGBT memang salah, tetapi tidak sepantasnya kita sebagai manusia yang setara dan merupakan ciptaan Tuhan yang serupa dengan-Nya menghina atau merendahkan martabat orang lain. Pernyataan tersebut dapat dilihat dalam UUD 1945 amanden II, Pasal 28 E ayat (2) berisi : “Setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya.” Dan pada pasal 5 yang telah dipromulgasikan oleh PBB pada tahun 1948, berisi : “Tidak seorang pun boleh disiksa atau diperlakukan secara kejam, memperoleh perlakuan atau dihukum secara tidak manusiawi atau direndahkan martabatnya.” Pasal-pasal tersebut dapat digunakan sebagai perisai untuk melindungi para pelaku LGBT dan penulis menyetujui bahwa kaum LGBT juga berhak untuk mendapatkan perlakuan yang adil. Namun, pasal tersebut dijadikan perisai bagi pendukung LGBT dan penganutnya untuk melegalisasikan pernikahan sesama jenis yaitu dengan mengganti pasal 16 ayat 1 yang berisi bahwa pria dan wanita yang telah dewasa tanpa membeda-bedakan agama, kebangsaan, dan kewarganegaraan, mempunyai hak yang sama untuk menikah dan perceraian.
Dalam ideologi negara Indonesia yaitu Pancasila sangat bertentangan dengan LGBT. Hal tersebut berada dalam sila ke-1 yang sudah sangat jelas bahwa pernikahan sesama jenis tidak diperbolehkan di Indonesia, karena tidak ada perspektif agama manapun yang akan mengizinkan pernikahan tersebut. Bangsa Indonesia sangat bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan kepercayaan mereka masing-masing dan di setiap agama diajarkan bahwa manusia hanya diciptakan memiliki dua jenis gender saja yaitu pria dan wanita untuk saling melengkapi dan membuat keturunan. Maka dari itu, pernikahan sesama jenis adalah hal yang haram di agama manapun. Untuk mencapai persatuan Indonesia dan kedamaian suatu negara, ada baiknya jika kita saling menghormati baik kaum LGBT maupun sebaliknya dan menjaga ideologi yang telah dibangun oleh negara kita.
Menindaki komunitas LGBT dengan kekerasan dan mencemooh adalah hal yang sangat salah dan melanggar ideologi negara. Berdasarkan kutipan dari media tirtio.id, Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Mohamad mengatakan bahwa kelompok LGBT seharusnya tidak berkegiatan di kampus, dengan alasan pilar “penjaga moral” dan masih banyak lagi contoh kasus diskriminasi terhadap kelompok LGBT. Padahal kelompok LGBT juga merupakan bangsa Indonesia yang memiliki HAM sejak mereka dilahirkan dan berhak untuk mendapatkan perlindungan dan keadilan dari negara tanpa adanya diskriminasi hanya karena mereka memiliki pandangan yang berbeda. Indonesia mempunyai sembhoyan “Bhinneka tunggal ika” yang berarti meskipun kita bangsa Indonesia memiliki begitu banyak perbedaan, tetapi kita tetaplah satu. Artinya, diskriminasi terhadap kelompok LGBT harus segera dihilangkan karena dapat merusak persatuan dan kesatuan Indonesia.
Hal yang harus kita tolak dari LGBT adalah tindakannya dan bukan pelakunya. Sebaiknya kita melakukan pendekatan secara psikologis terhadap kaum LGBT, agar mereka merasakan kenyamanan dan perasaan peduli dari kita. Kita sebagai sesama bangsa Indonesia harusnya merangkul dan membimbing para pelaku LGBT agar dapat disembuhkan, karena faktor lingkungan sosial dapat berperan besar bagi LGBT untuk berubah. Berdasarkan kutipan dari media merdeka.com, Pakar neuropsikologi, Ikhsan Gumilar berkata bahwa faktor utama LGBT adalah lingkungan dan pelaku LGBT dapat sembuh total 100% jika dia mau berubah. Namun, sebagai manusia kita tidak dapat memaksakan kehendak untuk berubah ke arah tertentu, baik ke arah yang menurut kita baik maupun, yang menurut orang lain baik. Pada akhirnya, sebagai sesama manusia kita harus selalu saling mengingatkan sesama kita untuk memilih jalan yang benar, bukan menurut satu pihak atau banyak pihak, melainkan menurut apa yang dia pikir baik dan tidak merugikan orang lain.

Penulis : Vaneza Citra

STA GINOSKO

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed