oleh

Si ‘Grand-Grand Old Lady”‘ yang Belum Menjadi Nyonya di Rumahnya Sendiri

-Manado-77 views

Penulis:
H. Jacoba Roeroe

Peneliti dan Pemerhati Bidang Pembangunan Berkelanjutan di Wilayah Asia-Pasifik

STA GINOSKO

Hari ini Rabu 10 Juni 2020, merupakan hari yang istimewa buat si Grand-grand Old Lady, Nyonya Rumah yang sudah sangat tua namun hampir tidak lagi menjadi Nyonya di rumahnya sendiri. Banyak alasan sehingga ia terpinggirkan dan harus kalah bersaing dengan pendatang baru karena tergilas oleh derasnya arus modernisasi, teknologi maju dan mumpuni serta politik ekonomi yang sangat deras. 

Tentu pembaca akan bingung dengan introduksi di atas. Mengapa penggunaan istilah Grand-grand Old Lady sengaja dikiaskan kepada produk turunan buah kelapa yaitu minyak makan sehari-hari dikenal dengan nama Minyak Kelapa  yang sejak dulu hadir sebagai bahan pokok pangan sumber lemak nabati yang harus ada di setiap dapur rumah-rumah tangga warga Minahasa waktu itu, dan sekarang setelah mengikuti perkembangan jaman menjadi Provinsi Sulawesi Utara dan bahkan sebenarnya dengan Provinsi Gorontalo. 

Hanyut oleh derasnya arus globalisasi, modernisasi dan banyak lagi alasan, yang pasti bahwa Grand-grand Old Lady, si harum Minyak Kelapa perlahan tapi pasti mulai hilang dari dapur kita dan digantikan oleh produk baru yg dikenal dengan minyak makan berbahan baku palem lainnya dengan karakteristik yang sangat berbeda,  tidak berbau, berasa dan bahkan untuk daerah pegunungan tidak membeku jika malam hari seiring dengan turunnya suhu lingkungan sekitar; hal yg wajar, karena memang secara karakter dan komposisi kimiawi sangat berbeda dengan si tua Minyak Kalapa.

Banyak alasan, hasil kajian bertumpuk dan argument saling sahut-menyahut, intinya bahwa memang saat ini bukan lagi jamannya orang mengkonsumsi minyak kelapa sebagai sumber energi berbahan baku lemak nabati karena biaya prosesnya yang mahal dan perawatan sumber daya alamnya sendiri yaitu pohon kelapa tidak lagi mampu dijangkau dan  ditangani sang pemilik yaitu petani individual. Kalaupun ada, yah sangat sedikit.

Alasan yang paling menyedihkan karena si pesaing yaitu minyak makan dari tanaman palma lainnya umumnya memiliki harga yang lebih murah karena kepemilikan kebun adalah pengusaha besar, dan industri prosesingnya tersebar merata di bumi Indonesia bahkan mampu menggeser industri pengolahan buah kelapa yang sudah eksis duluan di Sulawesi Utara. 

Akibat dari cerita di atas sangat fatal, generasi era abad 20-an tidak lagi mengenal si Nyonya Tua ini di dapur mereka. Umumnya semua makanan yang tersaji diolah dari bahan pangan lemak nabati bersumber dari produk palem lainnya yang justru bukan produk sumberdaya alam lokal. Oleh sebab itu jika generasi yang akan datang juga tidak ingin menggunakan minyak kelapa  ini di dapur mereka dalam mengolah pangan untuk mendapatkan energi dari lemak nabati produk local ini, adalah wajar.

Apa akibatnya bagi kita saat ini, ? Pandemi COVID-19 mengajarkan banyak hal, bahwa perekonomian bangsa, Negara dan masyarakat menjadi tidak stabil, goyah bahkan tergerus untuk melawan dan bertahan akibat terpaan yang sangat dahsyat dan memakan biaya  tinggi, hal ini membuat KETAHANAN PANGAN masyarakat lokal menjadi tidak menentu.

Minyak makan yang seharusnya bisa diproduk sendiri seperti yang diwariskan para leluhur/pendahulu, menjadi sesuatu yang mahal,langka, dan untuk memasak masyarakat harus membeli dan menggunakan minyak makan produksi bahan baku bukan local, dan  didatangkan dari luar daerah.

Sangat ironis, saat mengatasi kekurangan pangan bagi masyarakat yang terdampak pandemic COVID-19, banyak sekali organisasi membagi-bagikan paket-paket bantuan sosial dalam rangka social safety net. Namun sayang sekali minyak makan yang ada di dalam paket-paket tersebut tidak berbahan baku lokal, yaitu minyak makan dari sumber nabati palem yang bukan produk pangan lokal.

Sementara masyarakat menjerit karena produk kelapa yg mereka hasilkan adalah sumber lemak nabati bahkan punya fungsi, karakteristik dan keunikan tersendiri saat ini tidak mampu menggantikan kehadiran minyak palem tersebut padahal kelapa adalah produk local dan tersedia disemua wilayah di daerah ini.

Hari ini Rabu 10 Juni 2020, akan dilaksanakan Seminar internasional tentang Pemanfaatan produk turunan kelapa Virgin Coconut Oil sebagai salah satu pangan local yang mampu memerangi pandemic COVID-19, seminar menghadirkan para pembicara yang sangat ahli dibidangnya, pimpinan tertinggi di Daerah sebagai pengambil keputusan untuk menyelamatkan produk Kelapa.

Harapan kami sederhana saja,  kiranya seminar hari ini bisa mengembalikan si Nyonya yang sudah sangat tua dan usur yaitu “ MINYAK KALAPA” menjadi Ibu dan Nyonya di negerinya sendiri. 
SEMOGA……..TUHAN MENOLONG KITA.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed